Latest News

Peraturan Industri Otomotif Perlu Diperkuat – GAIKINDO

Selain mampu menarik investasi baru, pelaku industri selalu ingat pesan pemerintah bahwa kunci untuk meningkatkan ekonomi adalah mendorong ekspor. Karena itu, produsen otomotif di bawah Asosiasi Industri Otomotif Indonesia (GAIKINDO) berusaha memacu laju ekspor setiap tahun.

Ada beberapa poin dalam pengembangan industri otomotif nasional yang perlu diketahui. Antara lain, industri otomotif Indonesia telah mandiri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Itu bisa dilihat dari berbagai produk mobil di pasar Indonesia. Banyak yang menggunakan level komponen domestik (TKDN) tingkat tinggi.

Selain itu, kita dapat melihat bahwa catatan impor kendaraan roda empat terus menurun setiap tahun. Sepanjang 2018, impor kendaraan roda empat tercatat sekitar 90 ribu unit. Di sisi lain, pencapaian ekspor mobil utuh (built-up, CBU) dari Indonesia terus tumbuh. Pada 2018, ekspor CBU mencapai 264.500 unit dengan pertumbuhan 14,4 persen.

Prestasi tersebut bahkan merupakan yang tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), pada tahun 2017 nilai ekspor otomotif menempati posisi kedelapan komoditas ekspor utama non-migas Indonesia dan mencapai nilai 7,1 miliar dolar AS (AS).

Berbicara tentang ekspor CBU, produk-produk Indonesia telah dieksplorasi di 80 negara di Asia, Afrika, Timur Tengah dan Amerika Latin. Pada 2019, GAIKINDO menargetkan ekspor CBU hingga 300 ribu unit dan diperkirakan akan mencapai satu juta unit.

Ada sisi positif dari perang perdagangan antara AS versus Cina yang dapat diambil oleh bisnis di Indonesia, termasuk sektor otomotif. Karena, dengan adanya perang tarif, negara-negara berkembang seperti Indonesia diuntungkan oleh target basis produksi. Selain memiliki tingkat produksi yang kompetitif dan posisi strategis untuk ekspor, Indonesia memiliki pasar otomotif terbesar di ASEAN.

Kita harus menyambut baik regulasi struktur industri otomotif yang kuat. Beberapa peraturan dan perpajakan harus dirancang sedemikian rupa untuk memperlancar potensi Indonesia menjadi basis produksi dan ekspor. Penjualan domestik 2018 menunjukkan hasil positif. Di tengah tantangan pasar, industri otomotif masih berhasil mencatat target penjualan lebih dari 1 juta unit.

Berdasarkan data dari Federasi Otomotif ASEAN (AAF), penjualan mobil Indonesia sepanjang 2018 mencapai 1,08 juta unit (32,32 persen) dari total 3,34 juta unit penjualan mobil ASEAN. Kemudian, negara dengan penjualan mobil terbesar kedua adalah Thailand, diikuti oleh Malaysia di tempat ketiga. Indonesia akan tetap menjadi pemimpin di ASEAN.

Sejalan dengan misi pemerintah untuk meningkatkan populasi mobil listrik di Indonesia, peluang ekspor yang besar harus menjadi pemicu bagi produsen otomotif di Indonesia untuk lebih cepat dan lebih serius dalam berinvestasi dalam RnD dan produksi mobil listrik.

Jika pemerintah berhasil memfasilitasi para pemain industri dengan peraturan dan insentif pendukung, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi basis untuk produksi kendaraan mobil hibrida dan listrik untuk diekspor ke seluruh dunia. (Sumber: Jawa Post / Foto: Berita Poskota)

*) Yohannes Nangoi: Ketua Umum Asosiasi Industri Otomotif Indonesia (GAIKINDO)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to top