Jual Velg Mobil Murah

JAKARTA- Perubahan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) membuat Asosiasi Industri Otomotif Indonesia (GAIKINDO) optimistis ekspor mobil dari Indonesia juga akan terdongkrak. Ini karena peraturan baru tidak lagi mengatur pajak berdasarkan bentuk atau model. Dengan begitu produsen mobil di Indonesia akan lebih leluasa memproduksi mobil yang sesuai dengan permintaan global.

"Dengan perubahan PPnBM, semua model bisa tumbuh dan diproduksi di dalam negeri." Kita bisa ekspor nanti, "kata Ketua I GAIKINDO Jongkie D Sugiarto seperti dikutip Jawa Pos pada awal November 2019

Di Indonesia, mobil yang paling populer adalah model (multi-purpose vehicle, MPV). Sebagian besar produksi dan pengembangan produk lebih bergantung pada model mobil keluarga. Meskipun GAIKINDO menyebutkan bahwa model yang paling populer secara global adalah sport utility vehicle (SUV), pickup (double cabin), dan sedan.

Menurut Jongkie, harmonisasi PPnBM sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 73 tahun 2019 mengharuskan industri otomotif berkembang. Saat ini ekspor mobil Indonesia sekitar 300 hingga 400 ribu unit per tahun. PP 73/2019 mengatur pengenaan PPnBM yang berfokus pada emisi kendaraan, tidak lagi berdasarkan bentuk tubuh seperti yang diatur oleh peraturan lama. Dalam peraturan baru, PPnBM lebih ringan ketika emisi kendaraan rendah.

Dalam peraturan lama, pengenaan sedan PPnBM, station wagon, dan tarif 4×4 berkisar antara 30 persen hingga 125 persen. Tarif PPnBM untuk MPV, SUV dan hatchback mencapai 10 hingga 125 persen. Khusus untuk pasar sedan, kehadiran PP 73/2019 dapat merangsang industri mobil sedan di Tanah Air.

Jika produksi sedan meningkat, ekspor otomotif Indonesia dapat meningkat. Pasar potensial untuk ekspor mobil sedan cukup luas dan sejauh ini belum dikerjakan oleh Indonesia. "Kita harus membidik pasar ekspor. Diversifikasi model di dalam negeri sehingga mereka dapat melayani permintaan ekspor. Di Indonesia, rata-rata produksi adalah MPV yang kurang disukai oleh pasar ekspor. Bahkan, mereka menginginkan sedan," kata Jongkie.

Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pemain domestik, tetapi juga menjadi basis ekspor mobil. Selain Australia, kata Jongkie, ada banyak negara yang ditargetkan setelah PP 73/2019 berlaku pada 2021.

PP 73/2019 ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 15 Oktober 2019 dan diberlakukan satu hari setelahnya, tepatnya pada 16 Oktober 2019. PP tersebut akan berlaku dua tahun setelah diundangkan, yaitu pada 16 Oktober 2021. Jongkie mengatakan, dua tahun dapat digunakan sebagai pabrikan sebagai pabrikan masa transisi untuk meningkatkan kualitas mesin dan sistem pembuangan. (*)

Pangsa Pasar Global Berdasarkan Segmen

SUV (36,4 persen): Cina

Kompak, sedan (16,8 persen): Cina

Subkompak, hatchback (12,5 persen): Cina

Ukuran Sedang, MPV (8,1 persen): Amerika

Pickup (6,4 persen): Cina

City Car (6,2 persen): Jepang.

Leave a Reply